Sabotase Cavani, Comeback United

Manchester United mengalahkan Southampton dengan cara paling “Setan Merah”. Menangkan dengan membalikkan situasi. Dikatakan portal Bola terpercaya konstanta dicetak dengan pengganti Rebound, recovery, dan supersub adalah tiga variabel yang melekat pada DNA Manchester United. Daya tarik itulah yang kerap mewarnai hari-hari kejayaan Manchester United di era Sir Alex Ferguson.

Sebutkan final Liga Champions 1998-99, kemenangan 5-3 di White Hart Lane Stadium pada 2001-02, gol Federico Macheda melawan Aston Villa, atau pertandingan menit ke-96 Michael Owen melawan Carlos Tevez. Daftar lainnya berjalan dengan sendirinya.

Tidak mudah untuk mendukung United setelah Fergie pergi. Dominasi persaingan langsung berubah. Sedangkan bongkar muat dari David Moyes ke Ole Gunnar Solskjaer belum mampu memberikan banyak stabilitas. Tapi itu tidak berarti hal-hal seperti “kemenangan kembali” tidak ada lagi. Yang luar biasa, tentu saja, adalah ketika Paris runtuh berkat kombinasi tanpa ego Romelu Lukaku dan Marcus Rashford.

Untungnya, itu datang tanpa melibatkan biaya transfer apa pun. Untuk mengantarkan transfer pass, tentunya masih ada satu gol menantang yang harus dijunjung: menghidupkan kembali masuknya pemain nomor tujuh Manchester United.

Sejak kepergian Cristiano Ronaldo, nomor tujuh MU sangatlah ajaib. Hanya 14 gol yang dicetak dalam 11 tahun oleh pemilik nomor tujuh. Michael Owen menemukan senja karirnya. Kecemerlangan Antonio Valencia mendadak memudar, hingga dia memutuskan untuk mengganti nomor punggungnya lagi.

Ada juga season Angel Di Maria dengan cerita perampokan yang terus kita bicarakan. Bakat Memphis Depay terkubur dalam-dalam. Begitu pula Alexis Sanchez yang mengaku ingin kembali ke Arsenal setelah bermain piano dan berlatih di sana untuk pertama kalinya.

Akhirnya nama Edinson Cavani juga tersinggung. Pria kelahiran Salto, penggemar Gabriel Batistuta. Dengan menyebutkan namanya, kita tahu darimana asal mula perayaan tujuan tembak menembak.

Sosok Cavani mulai menarik perhatian dengan mengenakan seragam Palermo berwarna pink. Kemudian dia tetap tegar, meski rambut panjangnya beberapa kali dijepit oleh Giorgio Chiellini untuk mempromosikan Napoli. Gelar Piala Italia adalah buktinya.

Dia menyebutnya sebagai proyek sepak bola Paris. Gol goyahnya menjembatani era Zlatan Ibrahimovic dengan Kylian Mbappe. Karena masalah kontrak akibat wabah itu, ia tidak ikut dalam tim yang melaju ke final di Portugal.

Cavani hanya bermain sekali dalam lima pertandingan yang dimainkan. Dihiasi dengan tiga gol dan assist. Gol pertama datang melalui hubungan dengan Bruno Fernandes yang bersinar terang di Stadion Goodison Park. Sisanya berasal dari kejeniusannya di St Mary’s Last Weekend.

Dia menyabotase “Ward-Prowse Show” yang hanya berlangsung di babak pertama. Gol-gol hebat dan bantuan memuaskan dari eksekusi bola mati Prowsy tidak berguna. Untuk babak kedua semuanya datang dari Cavani.

Sorotan dari pergantian paruh waktu sebenarnya adalah Dean Henderson. Penjaga gawang yang dipinjamkan ke Sheffield United musim lalu itu melakukan debutnya di Liga Inggris bersama Manchester United. Henderson menggantikan David De Gea yang bermasalah saat gagal mengantisipasi tendangan bebas di detik kedua The Saints.

Hingga protagonis kedua klub tersebut meninggalkan ruangan mengingat babak kedua, Cavani tidak melihat pangkal hidungnya. Bahkan ketika dia muncul, dia belum cukup siap karena dia telah mengganti sepatunya di pinggir jalan. Singkat cerita, dia menggantikan Mason Greenwood dengan babak pertama yang mengecewakan.

Dalam waktu kurang dari 15 menit di lapangan, Cavani menjamu Bruno Fernandes dengan mencetak gol harapan. Kembalinya langsung terasa. Setelah 15 menit, giliran El Matador yang mengubah papan skor.

Gol pertama Setan datang dari pertarungan Aaron Wan Bissaka untuk merebut bola. Alih-alih kembali ke tengah, Cavani justru melangkah lebih jauh untuk membuat MU unggul dalam jumlah pemain di sayap kanan. Sebuah gerakan yang mengganggu duet menara kembar Southampton. Di depan pintu, Cavani memiliki dua opsi untuk mengirim umpan: Fernandes dan Rashford.

Sebelum mencetak gol kedua, Cavani melakukan sundulan pada menit ke-70 hanya sedikit di sebelah kanan gawang The Saints. Awalnya masih beredar di sisi kanan, hingga Bruno Fernandes yang berada di depan kotak penalti mendekati Wan Bissaka sebelum melepaskan umpan.

Sabotase Cavani, Comeback United | admin | 4.5